Rahim Ilmi dan Tali Ruhani dengan Guru

Rahim Ilmu dan Tali Ruhani dengan Guru

Ada hubungan yang tidak cukup dijelaskan hanya dengan pertemuan jasad. Ada ikatan yang tidak tampak oleh mata, tetapi terasa dalam perjalanan batin. Salah satunya adalah hubungan seorang murid dengan gurunya.

Sambung dengan guru, pada hakikatnya adalah menyambung tali dengan orang tua secara ruhani. Sebab sebagaimana kita mempunyai orang tua yang menjadi sebab lahirnya jasad kita, demikian pula ada guru yang menjadi sebab lahirnya kehidupan ilmu dalam diri kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:


الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف

“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kelompok-kelompok. Ruh yang saling mengenal akan saling menyatu, sedangkan yang tidak saling mengenal akan saling menjauh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin karena itu, terkadang kita merasa dekat dengan seseorang tanpa tahu persis dari mana kedekatan itu bermula. Tidak banyak berbicara, tetapi hati terasa akrab. Tidak banyak bertemu, tetapi ada rasa ingin menyambung. Bisa jadi, ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan lahiriah.

Begitu pula dengan guru.

Kita boleh saja belajar kepada banyak guru. Kita boleh membaca banyak kitab, menghadiri banyak majelis, mendengarkan banyak nasihat, dan menyerap ilmu dari berbagai mata air. Bahkan, semakin banyak seseorang belajar, semestinya semakin luas pula pandangannya.
Tetapi jangan sampai luasnya perjalanan membuat kita lupa kepada mata air pertama tempat kita belajar meneguk ilmu.

Kita ibarat anak-anak yang lahir dari satu rahim ilmu.

Pada awal perjalanan, mungkin kita pernah bersama-sama menimba ilmu dari seorang guru. Dari satu majelis, satu kitab, satu nasihat, dan satu teladan, kita belajar mengenal huruf-huruf pertama kehidupan.

Setelah itu, perjalanan kita mungkin berbeda.

Ada yang kemudian menyusu kepada guru yang lain. Ada yang menemukan mata air baru. Ada yang menempuh jalan keilmuan yang berbeda. Ada yang memperdalam fikih, yang lain tasawuf; ada yang menekuni tafsir, yang lain hadis; ada yang berjalan ke dunia pendidikan, sementara yang lain masuk ke dunia dakwah dan pengabdian.

Tetapi perbedaan tempat kita menyusu tidak semestinya membuat kita lupa bahwa rahim ilmu kita pernah sama.

Bukankah seorang anak tetap bersaudara meskipun kelak ia makan dari meja yang berbeda?

Bukankah saudara kandung tidak menjadi orang asing hanya karena masing-masing memiliki kehidupan, rumah, dan jalan yang berbeda?

Demikian pula persaudaraan para penuntut ilmu.

Jangan karena sekarang kita belajar kepada guru yang berbeda, lalu kita memutus penghormatan kepada guru yang dahulu. Jangan karena sekarang kita menemukan jalan pemikiran yang lebih luas, lalu kita merasa tidak lagi mempunyai hubungan dengan mereka yang dahulu mengenalkan kita kepada jalan ilmu.

Guru yang berbeda bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan. Perbedaan guru tidak harus melahirkan perbedaan hati.

Sebab ilmu pada hakikatnya adalah satu mata air, meskipun mengalir melalui banyak sungai.

Yang perlu dijaga bukan hanya hubungan dengan orang yang sedang menjadi tempat kita belajar, tetapi juga hubungan dengan mereka yang pernah menjadi pintu masuk ilmu ke dalam kehidupan kita.

Inilah yang barangkali dapat kita sebut sebagai silaturahmi ilmu.

Sebagaimana silaturahmi keluarga menjaga hubungan darah, silaturahmi ilmu menjaga hubungan ruhani. Sebagaimana seseorang tidak pantas melupakan keluarganya hanya karena telah memiliki keluarga baru, seorang murid pun seyogianya tidak melupakan guru terdahulu hanya karena telah berguru kepada orang lain.

Bahkan, boleh jadi keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada seberapa banyak ilmu yang kita kumpulkan, tetapi juga pada seberapa baik kita menjaga hubungan dengan orang-orang yang menjadi perantara sampainya ilmu itu kepada kita.

Menyambung guru bukan berarti mengkultuskan manusia.

Menyambung guru adalah menjaga adab. Menghormati guru bukan berarti menutup pintu kepada guru yang lain.

Justru semakin luas seseorang menimba ilmu, semakin seharusnya ia memahami bahwa ilmu itu mempunyai sanad, mempunyai mata rantai, mempunyai orang-orang yang dengan keikhlasan dan pengorbanannya telah menjadi jembatan antara kita dan warisan para ulama.

Karena itu, jangan mudah memutus tali hanya karena kita menemukan tali yang lain.

Jangan membakar jembatan yang dahulu membawa kita sampai ke tempat kita berdiri hari ini.

Tetaplah menyambung.

Jika tidak mampu datang, sambunglah dengan doa.

Jika tidak mampu memberi banyak, berilah penghormatan.

Jika tidak mampu sering bertemu, jangan hilangkan beliau dari ingatan.

Jika sekarang kita menyusu kepada guru yang lain, tetaplah ingat kepada rahim ilmu tempat kita dahulu dilahirkan.

Sebab boleh jadi keberkahan hidup tidak hanya datang dari banyaknya pintu yang kita buka, tetapi juga dari pintu-pintu lama yang tidak pernah kita tutup dengan kesombongan.

Silaturahmi ilmu pun, sebagaimana silaturahmi keluarga, mempunyai buah yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka. Ia dapat melahirkan ketenangan hati, keberkahan ilmu, luasnya persaudaraan, kemudahan dalam perjalanan hidup, dan—atas izin Allah—limpahan rezeki yang halal serta kebaikan-kebaikan yang tidak pernah kita sangka.

Maka, jangan hanya bertanya,

“Kepada siapa aku belajar hari ini?”

Sesekali bertanyalah:

“Dari rahim ilmu siapa dahulu aku dilahirkan?”

Lalu tengoklah ke belakang dengan hati yang penuh terima kasih.

Sebab manusia yang tahu dari mana ia berasal, biasanya akan lebih tahu bagaimana seharusnya ia melangkah.

Dan dalam perjalanan panjang mencari ilmu, mungkin inilah salah satu tali yang harus terus kita pegang:


التعلق بالشيخ فوق كل جمع


“Keterikatan dengan guru berada di atas segala bentuk perkumpulan.”


Bukan berarti guru menggantikan kedudukan keluarga, dan bukan pula berarti seseorang hanya boleh berguru kepada satu orang. Tetapi ia adalah pengingat bahwa tali ruhani antara murid dan guru jangan mudah dilepaskan hanya karena perjalanan ilmu membawa kita kepada banyak guru dan banyak majelis.

Sebab kita boleh berbeda tempat menimba ilmu.

Kita boleh berbeda kitab yang dibaca.

Kita boleh berbeda jalan pengabdian.

Tetapi jangan berbeda dalam adab.

Karena mungkin kita tumbuh dari banyak mata air, tetapi jangan pernah lupa pada rahim ilmu yang pertama kali membuat kita mengenal haus dan

mengajarkan bagaimana cara meneguk ilmu.

✍️ PROFIL PENULIS
👤
PENULIS / SANTRI
Khuwaidim al ma'had
ASAL PONDOK PESANTREN
🏫 PP MUS Roudhotussolihin