Sebuah Refleksi Haru Santri , Ngaji Kitab Kuning
Menjadi santri tidak selalu harus menetap di kobong pesantren. Tidak pula harus mengikuti jadwal pengajian yang padat setiap selesai salat lima waktu. Lebih dari itu, menjadi santri adalah tentang bagaimana seseorang mengamalkan, menghayati, dan menjaga ilmu yang telah diberikan oleh guru, meskipun ilmu yang diperoleh hanya sedikit. Sebab, ilmu bukan sekadar untuk diketahui, melainkan untuk diamalkan dan menjadi penerang dalam kehidupan.
Begitu pula keberhasilan sebuah pesantren. Keberhasilan pesantren tidak semata-mata diukur dari banyaknya jumlah santri, megahnya bangunan, atau lengkapnya fasilitas yang dimiliki. Ada pesantren dengan santri yang tidak banyak dan bangunan yang sangat sederhana, tetapi dakwahnya menjangkau berbagai penjuru. Ilmunya hidup, nasihatnya diamalkan, dan para santrinya tumbuh menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Kita teringat kisah para rasul dan ulama terdahulu. Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan bahwa tidak banyak orang yang beriman bersama Nabi Nuh Alaihissalam:
وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)
Kisah tersebut mengajarkan bahwa kebenaran dan keberhasilan dakwah tidak selalu dapat diukur dengan banyaknya pengikut. Nabi Yunus Alaihissalam pun mengalami ujian berat dalam perjalanan dakwahnya. Sementara itu, Nabi Isa Alaihissalam dikenal memiliki pengikut setia yang disebut Hawariyyun.
Demikian pula perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Di sekitar beliau terdapat para sahabat yang senantiasa mendampingi dan menimba ilmu secara langsung. Di antara mereka adalah Ashabus Suffah, kelompok sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi dan dikenal tekun belajar. Namun, pengaruh ilmu dan dakwah Rasulullah ﷺ jauh melampaui jumlah orang yang tinggal dan belajar langsung bersama beliau.
Kisah para ulama pesantren juga memberikan pelajaran yang sama. Dalam kisah-kisah yang masyhur, Kiai Kholil Bangkalan dikenal melahirkan murid-murid yang menjadi ulama besar. Bahkan, terdapat kisah tentang beliau yang kemudian mengaji kepada muridnya sendiri, Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Hal ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan ilmu tidak berhenti pada hubungan guru dan murid, melainkan terus hidup melalui kerendahan hati, penghormatan, dan keberlanjutan tradisi keilmuan.
Demikian pula kisah para kiai terdahulu, seperti Mbah Maksum Lasem dan Mbah Baidhowi. Ketulusan, keikhlasan, serta ilmu yang mereka ajarkan menjadi bekal bagi murid-muridnya untuk meneruskan perjuangan dakwah. Dari majelis-majelis ilmu yang sederhana, lahir orang-orang yang membawa manfaat bagi umat di berbagai tempat.
Lalu, bukankah hal ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 122?
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada mereka, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini mengajarkan pentingnya sekelompok orang memperdalam ilmu agama, kemudian menyampaikan dan mengajarkannya kepada masyarakat. Ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ia harus diteruskan, diamalkan, dan menjadi manfaat bagi orang lain.
Lantas, apakah seseorang yang belum mampu menetap di pesantren berarti tidak boleh mengaji? Apakah orang yang tidak memiliki kesempatan mondok harus berhenti belajar agama? Dan apakah pesantren yang santrinya sedikit berarti gagal dalam berdakwah?
Tentu, kita perlu membedakan antara kewajiban menuntut ilmu agama sesuai kemampuan dan kesempatan dengan kesempatan untuk belajar secara intensif di pesantren. Mondok merupakan jalan mulia untuk memperdalam ilmu, membentuk adab, dan melatih kedisiplinan. Namun, keterbatasan biaya, keadaan keluarga, kesehatan, atau tanggung jawab lainnya tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar dan mengamalkan agama.
Bagi yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk mondok, manfaatkanlah kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Hormati guru, tekuni kitab, jaga adab, dan kuatkan niat. Jangan sampai sudah berada di pesantren, tetapi hati tidak sungguh-sungguh mencari ilmu.
Bagi yang belum mampu menetap di pesantren, jangan berkecil hati. Tetaplah mengaji kepada guru, menghadiri majelis ilmu, mempelajari kitab sesuai bimbingan, serta mengamalkan apa yang telah dipahami. Sedikit ilmu yang diamalkan dengan ikhlas lebih bermakna daripada banyak pengetahuan yang tidak pernah diwujudkan dalam perilaku.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya di mana kita belajar, berapa banyak kitab yang kita baca, atau berapa lama kita tinggal di pesantren. Yang juga penting adalah bagaimana ilmu itu membentuk akhlak, memperbaiki ibadah, menumbuhkan rasa hormat kepada guru dan orang tua, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Ngaji itu harus. Mondok adalah jalan mulia bagi yang memiliki kemampuan dan kesempatan. Dan ilmu yang telah dipelajari harus terus dijaga, diamalkan, serta disebarkan.
Sebab, kemuliaan seorang santri bukan hanya terletak pada lamanya ia tinggal di kobong, tetapi juga pada adab yang dijaga, ilmu yang diamalkan, dan manfaat yang ditinggalkan.
Semoga kita semua menjadi pencari ilmu yang tidak pernah berhenti belajar, murid yang senantiasa menghormati guru, dan insan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan umat.
